Partisipasi
politik dinilai secara berbeda-beds di dalam masyarakat yang berbeda. Di mans
hal itu dianggap sebagai tujuan yang perlu dicapai. Perluasan partisipasi
politik melibatkan biaya dan konsepsi ditinjau dari segi tujuan- tujuan lain,
serta biaya-biaya dan konsepsikonsepsi itu berada di antara
masyarakat-masyarakat yang berlainan pada tingkat yang berlainan dari
modernisasi atau pembangunan secara keseluruhan. Pokok persoalan yang penting
adalah bahwa peranan partisipasi politik di dalam masyarakat merupakan satu
fungsi dari prioritas-prioritas yang diberikan keapda variabel dan
tujuan-tujuan lain dan dari strategi pembangunan secara keseluruhan.
Pembangunan
yang dimaksud di sini adalah sebagai proses modernisasi atau proses
pembinaan bangsa (nation
building) di segala
bidang, baik ekonomi, politik, sosial,
budaya, pendidikan maupun mental. Dalam hal ini terkandung satu pengertian
bahwa pemberian prioritas pertama kepada pembangunan ekonomi seperti sekarang
ini hanyalah merupakan suatu strategi menujun ke arah itu. Sukses dalam
pembangunan ekonomi diharapkan akan melimpah ke bidang-bidang yang lain
sehingga merangsang mereka untuk berkembang pula.
Di
dalam proses pembangunan secara keseluruhan, perluasan partisipasi politik
dapat dipahami sebagai berikut: (a) satu tujuan utama kaum elit politik,
kekuatan-kekuatan sosial dan perorangan-perorangan yang terlibat di dalam
proses itu; (b) sebagai sarana kaum elit, kelompokkelompok, dan perorangan-
perorangan untuk mencapai tujuan-tujuan lain yang mereka nilai tinggi; atau (c)
sebagai hasil sampingan atau konsekuensi tercapainya tujuan-tujuan lain, baik
oleh masyarakat secara keseluruhan oleh kaum elit, kelompok-kelompok, dan peroranganperorangan di
dalam masyarakat (Huntington
dan Nelson, 1994:56)
Seperti
telah kami kemukakan, perluasan partisipasi politik jarang merupakan satu
tujuan utama bagi kaum elit politik di dalam masyarakat yang sedang berkembang. Kalaupun partisipasi
politik memang bertambah, maka tingkat perluasan itu sebagian besar
mencerminkan sejauh mans partisipasi itu merupakan sarana untuk mecnapai
tujuantujuan lain atau merupakan hasil sampingan sebagia akibat tercapainya tujuan-tujuan
lain itu. Pemimpin- pemimpin politik akan berusaha untuk memperluas partisipasi
politik apabila mereka menggagap perluasan itu sebagai cars untuk memperkuat
atau mempertahankan kekuasaan mereka
dan untuk membina
usaha-usaha mencapai tujuan-tujuan lain yang mereka anggap perlu
dicapai, seperti kemerdekaan nasional atau pemerataan sosio-ekonomi. Akan
tetapi mereka yang memiliki kekuasaan
politik, akan lebih cenderung untuk
memperkuat kekuasaan mereka sendiri dan memajukan kestabilan politik
dengan jalan membatasi partisipasi politik daripada memperluasnya. Sebaliknya,
usaha mengejar tujuan-tujuan seperti pembangunan ekonomi, pemerataan sosio-
ekonomi, dan malahan kestabilan politik dapat menimbulkan kondisi-kondisi yang
memudah kan perluasan partisipasi politik. Demikian pula, cara-cara yang
dipilih oleh kaum elit politik dan pemerintahan untuk melaksanakan program-
program pemerintah mempunyai konsekuensi-konsekuensi penting bagi tingkat dan
sifat partisipasi politik.
Pembangunan
mampu memberikan dorongan terhadap peningkatan partisipasi politik. Pada
tingkat yang lugs, memang terlihat adanya korelasi antar kedua faktor dimaksud.
Huntington dan Nelson (1994:60-61) menguraikan secara singkat bagaimana
hubungan itu terjadi.
Pertama,
di
dalam suatu masyarakat,
tingkat partisipasi politik cenderung bervariasi dengan status
sosio-ekonomi. Mereka yang berpendidikan lebih tinggi, berpenghasilan lebih
besar dan mempunyai status pekerjaan yang lebih tinggi biasanya lebih partisipatif
daripada mereka yang miskin, tak berpendidikan
dan memiliki pekerjaan
berstatus rendah. Pembangunan ekonomi memperluas proporsi
peranan berstatus lebih tinggi di daiam masyarakat; meningkatnya akdar melek
huruf, berpendidikan, makmur, dan melakukan pekerjaan-pekerjaan kelas menengah.
Oleh sebab itu, bagian masyarakat yang partisipan di bidang politik menjadi
lebih banyak.
Kedua,
pembangunan ekonomi dan sosial melibatkan ketegangan dan tekanan antar kelompok
sosial; kelompok-kelompok yang barn bermunculan; kelompok-kelompok yang
sudah mapan mulai terancam, dan
kelompok- kelompok yang lebih
rendah menggunakan
kesempatan untuk memperbaiki nasib mereka. Sebagai akibatnya, meningkatlah
konflik antar kelas sosial, daerah, sedang kelompok-kelompok komunal dan
konflik sosial meningkat secara tajam, dan dalam beberapa kasus, boleh
dikatkaan menciptakan kesadaran kelompok, yang belakangan melahirkan tindakan
kolektif oleh satu kelompok untuk mengembangkan dan melindungi
tuntutan-tuntutannya terhadap berbagai kelompok lain. Pendek kata, kelompok itu
harus memasuki politik.
Ketiga,
perekonomian yang semakin kompleks menyebabkan bertambah banyaknya organisasi
dan perkumpulan dan meningkatnya jumlah orang yang terlibat dalam
kelompok-kelompok itu. Organisasi-organisasi perusahaan, perkumpulan-perkumpulan
petani, serikat buruh, organisasi komunitas, demikian pula
organisasi-organisasi kebudayaan, rekreasi, dan malahan keagamaan, merupakan
ciri-ciri yang lebih menonjol bagi masyarakat- masyarakat yang lebih maju. Di
Indonesia, misalnya, pembangunan ekonomi telah diikuti oleh peningkatan jumlah
perkumpulan-perkumpulan, sedang rasio penduduk jauh lebih tinggi di
propinsi-propinsi yang lebih berkembang. Kedua kesimpulan itu memberikan
petunjuk tentnag adanya suaut korelasi positif antara pembangunan sosio-ekonomi
dan intensitas di bidang perkumpulan. Keterlibatan dalam organisasi pada
umumnya jugs dihubungkan dengan partisipasi politik.
Keempat,
pembangunan ekonomi, untuk sebagian, memerlukan dan untuk sebagian lagi
menghasilkan perluasan penting dari fungsifungsi pemerintah. Sementara lingkup
kegiatan pemerintah dengan jelas dipengaruhi oleh nilai-nilai dan ideologi
politik yang dominan dalam masyarakat, is semakin dipengaruhi oleh tingkat
pembangunan ekonomi di dalam masyarakat itu. Masyarakat-masyarakat industri
maju dan yang mempunyai pemerintahan yang menganut paham ekonomi liberal
seringkali mempunyai perekonomian yang lebih
tingkat sosialisasinya dibandingkan dengan
masyarakat-masyarakat agraris yang diperintah orang-orang sosialis yang
sudah mapan. Yang disebut pertama hanya memerlukan lebih banyak promosi,
pengaturan dan retribusi oleh pemerintah. Akan tetapi, semakin
tindakan-tindakan pemerintah mempengaruhi kelompok-kelompok di dalam masyarakat,
semakin kelompok- kelompok akan melihat
relevansi pemerintah bagi
tujuan-tujuan mereka sendiri, dan
semakin giatlah mereka mempengaruhi pengambilan keputusan pemerintah.
Kelima.
modernisasi sosio-ekonomi biasanya berlangsung dalam bentuk pembangunan
nasional. Negara merupakan wahana bagi modernisasi sosio ekonomi. Oleh sebab
itu, maka bagi perorangan, hubungannya dengan negara menjadi sangat
penting, dan identitasnya sebagai
bagian dari negara cenderung mengabaikan loyalitas
lainnya. Secara teoritis, loyalitas itu dinyatakan dalam
konsep kewarganegaraan, yang
mengabaikan perbedaan kelas
sosial dan kelompok komunal, dan memberikan landasan bagi partisipasi politik
secara masal. Semua warga negara berkeduudkan sama di hadapan negara; semuanya
mempunyai tanggungjawab yang sama pada tingkat minimal tertentu sebagai
pars pelaku dalam
negara. Dengan demikian,
maka modernisasi sosio –ekonomi mengandung arti adanya suatu kebudayaan
dan pandangan politik yang cukup mengesankan, dan oleh sebab itu memudahkan
partisipasi politik.
Kelompok-kelompok dan
peroangan-perorangan di dalam
satu masyarakat yang sedang berkembang juga tidak mungkin menilai
partisipasi politik sebagai tujuan pada dirinya sendiri, dan akan lebih
cenderung untuk lebih dulu menggunakan cars-cars lain yang mungkin untuk
memperbaiki status sosial dan kesejahteraan materi mereka. Akan tetapi,
tercapainya tujuan- tujuan lain itu mungkin sekali mengakibatkan meningkatanya
partisipasi politik dengan demikian, maka pada umumnya partisipasi politiknya
tidak akan dikejar sebagai satu tujuan pada dirinya sendiri, kadang-kadang yang
mungkin dikejar atas landasan instrumental, sebagai sarana untuk mencapai
tujuan lain-, dan ebsar sekali kemungkinannya is akan muncul sebagai hasil
sampingan sebagai akibat tercapainya sesuatu tujuan lain.
No comments:
Post a Comment