Menurut
Nimmo, salah
satu ciri komunikasi ialah bahwa orang jarang dapat menghindari dan
keturutsertaan. Hanya dihadiri dan diperhitungkan oleh seorang lain pun memiliki
nilai pesan. Dalam arti yang paling umum kita semua adalah komunikator, begitu pula siapa pun yang dalam setting politik adalah
komunikator politik. Meskipun
mengakui bahwa setiap
orang boleh berkomunikasi tentang politik, kita mengakui bahwa relatif
sedikit yang berbuat demikian,
setidak-tidaknya yang melakukannya
serta tetap dan
sinambung. Mereka yang relatif
sedikit ini tidak hanya bertukar pesan politik; mereka adalah pemimpin
dalam proses opini. Para komunikator politik ini, dibandingkan dengan warga
negara pada umumnya, ditanggapi dengan lebih bersungguh-sungguh bila mereka
berbicara dan berbuat.
Sebagai pendukung
pengertian yang lebih besar terhadap peran
komunikator politik dalam proses opini, Leonard W. Dood menyarankan jenis-
jenis hal yang patut diketahui mengenai mereka: Komunikator dapat dianalisis sebagai
dirinya sendiri. Sikapnya terhadap khalayak potensialnya, martabat yang
diberikannya kepada mereka sebagai manusia, dapat mempengaruhi komunikasi yang
dihasilkannya; jadi jika ia mengira mereka itu bodoh, ia akan menyesuaikan nada
pesannya dengan tingkat yang sama rendahnya. Ia sendiri memiki
kemampuan-kemampuan tertentu yang dapat dikonseptualkan sesuai dengan kemampuan
akalnya, pengalamannya sebagai komunikator dengan khalayak yang serupa atau
yang tak serupa, dan peran yang dimainkan di dalam kepribadiannya oleh motif
untuk berkomukasi.
Berdasar pada
anjuran Doob, jelas
bahwa komukator atau
para komunikator harus diidentifikasi
dan kedudukan mereka di
dalam masyarakat harus
ditetapkan. Untuk keperluan ini Nimmo mengidentifikasi tiga kategori politikus,
yaitu yang bertindak sebagai komunikator
pilitik, komunikator profesional dalam politik, dan aktivis atau komunikator
paruh waktu.
No comments:
Post a Comment