Para sosiolog berpendapat bahwa akar dari timbulnya konflik yaitu
adanya hubungan sosial, ekonomi, politik yang akarnya adalah perebutan
atas sumber-sumber kepemilikan,
status
sosial dan
kekuasaan yang
jumlah ketersediaanya sangat terbatas dengan pembagian yang
tidak
merata di masyarakat.
Ketidak
merataan pembagian aset-aset sosial di dalam masyarakat tersebut dianggap
sebagai bentuk ketimpangan. Ketimpangan pembagian ini menimbulkan pihak-pihak
tertentu berjuang untuk mendapatkannya atau menambahinya bagi yang perolehan
asset sosial relatif sedikit atau kecil. Sementara pihak yang telah mendapatkan
pembagian asset sosial tersebut berusaha untuk mempertahankan dan bisa juga
menambahinya. Pihak yang cenderung mempertahankan dan menambahinya disebut
sebagai status quo dan pihak yang berusaha mendapatkannya disebut sebagai
status need. Pada dasarnya, secara sederhana penyebab konflik dibagi dua,
yaitu:
1. Kemajemukan
horizontal, yang artinya adalah struktur masyarakat yang mejemuk secara
kultural, seperti suku bangsa, agama, ras dan majemuk sosial dalam arti
perbedaan pekerjaan dan profesi seperti petani, buruh,
pedagang, pengusaha, pegawai
negeri, militer, wartawan, alim
ulama, sopir dan cendekiawan. Kemajemukan horizontal-kultural menimbulkan
konflik yang masing-masing unsur kultural
tersebut mempunyai karakteristik sendiri
dan masing-masing penghayat budaya tersebut ingin mempertahankan
karakteristik budayanya tersebut. Dalam masyarakat yang strukturnya seperti
ini, jika belum
ada konsensus nilai
yang menjadi pegangan bersama,
konflik yang terjadi
dapat menimbulkan perang saudara.
2. Kemajemukan
vertikal, yang artinya struktur masyarakat yang terpolarisasi berdasarkan
kekayaan, pendidikan, dan kekuasaan. Kemajemukan vertikal dapat menimbulkan
konflik sosial kerena ada sekelompok kecil masyarakat yang memiliki kekayaan,
pendidikan yang mapan, kekuasaan dan kewenangan yang besar, sementara sebagian besar tidak
atau kurang memiliki kekayaan, pendidikan rendah, dan tidak memiliki kekuasaan
dan kewenangan. Pembagian
masyarakat seperti ini
merupakan benih subur
bagi timbulnya konflik sosial.
Namun beberapa sosioloh menjabarkan banyak faktor
yang menyebabkan terjadinya konflik-konflik, diantaranya yaitu:
1. Perbedaan pendirian dan keyakinan orang perorangan telah menyebabkan konflik antar individu. Dalam
konflik-konflik seperti ini terjadilah bentrokan-bentrokan pendirian, dan
masing- masing pihak pun
berusaha membinasakan lawannya. Membinasakan disini tidak selalu
diartikan sebagai pembinasaan fisik,
tetapi bisa pula diartikan dalam bentuk pemusnahan simbolik atau melenyapkan
pikiran-pikiran lawan yang tidak disetujui. Di dalam realitas sosial tidak ada
satu pun individu yang memiliki karakter
yang sama sehingga
perbedaan pendapat, tujuan, keinginan tersebutlah
yang mempengaruhi timbulnya
konflik sosial.
2.
Perbedaan kebudayaan Perbedaan kebudayaan tidak hanya akan menimbulkan
konflik antar individu, akan tetapi bisa juga antar kelompok. Pola-pola
kebudayaan yang berbeda akan menimbulkan pola-pola kepribadian dan pola-pola
prilaku yang berbeda pula dikalangan khalayak kelompok yang luas. Selain itu,
perbedaan kebudayaan akan
mengakibatkan adanya sikap
etnosentrisme yaitu sikap yang ditunjukkan kepada kelompok lain bahwa
kelompoknya adalah yang paling baik. Jika masing- masing kelompok yang ada di
dalam kehidupan sosial sama-sama memiliki
sikap demikian, maka sikap ini akan memicu timbulnya konflik antar penganut
kebudayaan.
3.
Perbedaan
kepentingan. Mengejar
tujuan
kepentingan masing-
masing yang berbeda-beda, kelompok-kelompok akan bersaing dan berkonflik
untuk memperebutkan kesempatan dan sarana.
Perbedaan pendirian, budaya, kepentingan, dan sebagainya
tersebut diatas sering terjadi pada situasi-situasi perubahan sosial. Dengan
demikian perubahan-perubahan sosial itu secara tidak langsung dapat dilihat
sebagai penyebab juga terjadinya (peningkatan) konflik-konflik sosial.
Perubahan-perubahan sosial yang cepat dalam masyarakat akan mengakibatkan
berubahnya sistem nilai-nilai yang berlaku di dalam masyarakat. Dan perubahan nilai-nilai
di dalam masyarakat ini akan menyebabkan perbedaan-perbedaan pendirian dalam
masyarakat.
No comments:
Post a Comment