Gabriel A. Almond dan Sidney Verba membagi budaya politik dalam tiga jenis, yakni budaya politik
parokial, budaya politik kaula atau subjek dan budaya politik partisipan. Yang penting dari klasifikasi tersebut
adalah kepada objek politik apa aktor politik individual berorientasi,
bagaimana mereka mengorientasikan diri, dan apakah objek-objek politik tersebut
terlibat secara mendalam di dalam pembuatan kebijaksanaan atau di dalam
pelaksanaan kebijaksanaan. Hasilnya adalah beberapa jenis tiga tipe ideal
budaya politik berikut:
1. Budaya Politik Parokial
Budaya politik
parokial (parochial political culture) adalah spesialisasi peranan-peranan
politik atau tingkat partisipasi politiknya sangat rendah, yang disebabkan
faktor kognitif (misalnya tingkat pendidikan relatif rendah). Budaya politik
parokial juga ditandai oleh tidak berkembangnya harapan-harapan akan perubahan
yang akan datang dari sistem politik. Budaya politik parokial yang kurang lebih
bersifat murni merupakan fenomena umum yang biasa ditemukan didalam
masyarakat-masyarakat yang belum berkembang, dimana spesialisasi politik sangat
minimal.
Budaya politik
parokial biasanya terdapat dalam sistem politik tradisional dan sederhana,sebut
saja Pondok Pesantren Tebuireng salah satunya dengan ciri khas spesialisasi
masih sangat kecil, sehingga pelaku-pelaku politik belumlah memiliki
pengkhususan tugas. Tetapi peranan yang satu dilakukan bersamaan dengan peranan
yang lain seperti aktivitas dan peranan pelaku politik dilakukan bersamaan
dengan peranannya baik dalam bidang ekonomi, sosial maupun keagamaan atau
spiritual dalam Budaya Politik Santri pada Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.
Peranan Kyai sangat berpengaruh terhadap santri karena Kyai juga membatasi
komitmen pribadi para santri terhadap politik
dan mendesak komitmen para santri untuk menjadi lunak.
Baca Juga : Budaya Politik
Baca Juga : Budaya Politik
2. Budaya Politik Kaula
Budaya politik
subyek atau kaula memiliki frekuensi orientasi-orientasi yang tinggi terhadap
sistem politiknya, namun perhatian dan intensitas orientasi mereka terhadap
aspek masukan (input)
dan partisipasinya dalam
aspek keluaran (output) sangat rendah. Subjek individual menyadari akan
otoritas pemerintah yang memiliki
spesialisasi, ia bahkan
secara afektif mengorientasikan
diri kepadanya, ia memiliki kebanggan terhadapnya atau sebaliknya tidak
menyukainya, dan ia menilainya sebagai otoritas yang absah. Namun demikian,
ketika posisi para santri Tebuireng sebagai subyek (kaula) mereka dipandang
sebagai posisi yang pasif. Diyakini bahwa posisi santri tidak akan menentukan apa-apa terhadap
perubahan politik, disisi lain suara santri juga sangat berpengaruh juka di
lihat dari segi Politik meskipun santri hanya melihat di belakang panggung.
Mereka beranggapan bahwa dirinya adalah subyek yang tidak berdaya untuk
mempengaruhi atau mengubah sistem. Dengan demikian secara umum mereka menerima
segala keputusan dan kebijaksanaan yang diambil oleh yang berwenang dalam
masyarakat. Bahkan seorang santri memiliki keyakinan bahwa apapun keputusan
atau kebijakan pemerintah adalah mutlak, tidak dapat diubah-ubah, apalagi
ditentang.
3. Budaya Politik Partisipan
Budaya politik
partisipan adalah suatu budaya politik dimana para warga masyarakat ataupun
santri juga memilki orientasi politik yang secara eksplisit ditujukan kepada
sistem secara keseluruhan, bahkan terhadap struktur, proses politik dan
administratif. Dengan perkataan
lain, perhatian dan
intensitas terhadap masukan maupun keluaran dari sistem politik sangat
tinggi. Dalam budaya politik partisipasi
seorang santri atau
orang lain dianggap
sebagai anggota aktif dalam kehidupan politik, ia memiliki kesadaran terhadap hak dan tanggung jawabnya.
Santri juga merealisasi dan mempergunakan hak-hak politiknya di
belakang panggung politik.
Dengan demikian, santri
dalam budaya politik partisipan tidak begitu saja menerima keputusan
politik. Hal ini karena santri telah
sadar bahwa betapapun
kecilnya mereka dalam
sistem politik, mereka tetap memiliki arti bagi berlangsungnya sistem
itu. Model- model di
atas kaitannya dengan studi tentang Budaya Politik Santri pada Pondok Pesantren
Tebuireng Jombang dirasakan penting karena dapat menunjukkan
karakteristik-karakteristik khas serta tujuan-tujuan warga negara terhadap
sistem dan proses politik.
No comments:
Post a Comment