Dalam
pendekatan perilaku, terdapat interaksi antara manusia satu dengan lainnya dan
akan selalu terkait dengan pengetahuan, sikap dan nilai seseorang yang kemudian
memunculkan orientasi sehingga timbul budaya politik. Orientasi politik
itulah yang kemudian membentuk tatanan dimana interaksi-interaksi yang
muncul tersebut akhirnya
mempengaruhi budaya politik
seseorang. Karena hakekat
kebudayaan politik suatu santri terdiri dari sistem kepercayaan yang sifatnya empiris,
simbol-simbol yang ekspresif,
dan sejumlah nilai
yang membatasi
tindakan-tindakan politik, maka
kebudayaan politik selalu menyediakan arah dan orientasi
subyektif bagi politik. Karena kebudayaan politik hanya merupakan salah satu
aspek dari kehidupan politik, maka jika kita ingin mendapatkan gambaran dan
ciri politik suatu kelompok masyarakat secara bulat dan utuh, maka kitapun
dituntut melakukan penelaahan terhadap sisi yang lain.
Orientasi
politik sebenarnya merupakan suatu cara pandang dari suatu golongan santri
dalam suatu struktur masyarakat. Timbulnya orientasi itu dilatarbelakangi oleh
nilai-nilai yang ada dalam sosok santri maupun dari luar masyarakat yang
kemudian membentuk sikap dan menjadi pola mereka untuk memandang suatu obyek
politik. Berkaitan dengan sistem politik, kebudayaan politik santri dipengaruhi
oleh sejarah perkembangan dari segi sistem ataupun pengaruh tokoh dalam pondok
pesantren, di samping itu kebudayaan politik santri lebih mengutamakan dimensi
psikologis suatu sistem, seperti sikap, sistem kepercayaan, atau simbol-simbol
yang dimiliki dan diterapkan oleh individu- individu dalam suatu masyarakat
sekaligus harapan-harapannya. Variabel yang ada bisa berawal dari suasana
psikologis seseorang, argumentasi umum dalam jajaran psikologi
sosial, dan terminal
terakhir bertumpu pada
status sosial- ekonomi yang
dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang sebagai determinan pembentukan
orientasi, sikap dan tingkah laku dalam politik.
Kebudayaan politik sebagai pantulan
langsung dari keseluruhan sistem Sosial-Budaya
santri dalam arti luas. Hal ini terjadi melalui
proses sosialisasi politik agar seorang santri bisa mengenal, memahami, dan menghayati nilai-nilai politik tertentu
yang
dipengaruhi
oleh sikap
dan tingkah laku politik mereka sehari-hari. Adapun nilai-nilai politik yang terbentuk dalam
diri seseorang biasanya berkaitan
erat dengan atau bagian
dari nilai-nilai lain yang hidup dalam
masyarakat itu, seperti nilai-nilai
sosial budaya dan agama. Alfian nampaknya menempatkan faktor
lingkungan budaya sebagai
salah satu faktor
penentu orientasi politik
seseorang disamping sejumlah faktor lainnya.
Sikap suatu
kecenderungan berprilaku adalah
produk dari proses sosialisasi yang banyak ditentukan
oleh faktor budaya. Proses pembentukan sikap politik yang pada gilirannya
berupa perilaku politik yang diperoleh melalui sosialisasi politik,
tak pernah hadir
di dalam budaya. Budaya
politik seorang adalah pola
perilaku seseorang atau sekelompok orang yang dipengaruhi faktor eksternal
seperti situasi lingkungan atau faktor internal seperti: kebutuhan, SINA (Sitem
Nilai dan Asumsi) dan SKSM (Sistem Koordinasi Senso Motorik) yang orientasinya
berkisar pada situasi kehidupan politik yang sedang berlaku, bagaimana
tujuan-tujuan yang didambakan oleh sistem politik itu sendiri, serta
harapan-harapan politik apa
yang dimilikinya, biasanya
akan bercampurbaur dengan
prestasi di bidang peradaban.
Beberapa
definisi sikap yaitu, berorientasi kepada respon : Pertama sikap adalah suatu
bentuk dari perasaan, yaitu perasaan mendukung atau memihak (favourable) maupun
perasaan tidak mendukung (Unfavourable) pada suatu objek politik. Kedua
berorientasi kepada kesiapan respon : sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi
terhadap suatu objek politik dengan cara-cara tertentu, apabila dihadapkan pada
suatu stimulus yang menghendaki adanya respon dan suatu pola perilaku, tendensi
atau kesiapan antisipatif untuk menyesuaikan diri dari situasi sosial politik
yang telah terkondisikan. Ketiga berorientasi kepada skema triadik : sikap
merupakan konstelasi komponen-komponen kognitif dan afektif yang saling
berinteraksi dalam memahami, merasakan, dan berperilaku terhadap suatu objek
politik di lingkungan sekitarnya. Secara sederhana sikap didefinisikan sebagai
Ekspresi sederhana dari bagaimana kita suka atau tidak suka terhadap beberapa
hal.
32 Komponen atau struktur sikap suatu kelompok ataupun santri yaitu :
1. Komponen kognisi yang berhubungan dengan
belief (kepercayaan atau keyakinan),
ide, konsep persepsi,
stereotipe, opini yang dimiliki
santri mengenai sesuatu yang berkaitan dengan keyakinannya.
2. Komponen
Afeksi yang berhubungan
dengan kehidupan emosional seorang masyarakat sendiri yang
menyangkut perasaan seseorang terhadap objek sikap dan menyangkut masalah
emosi.
Faktor-faktor yang
mempengaruhi pembentukan sikap:
pengalaman pribadi, kebudayaan, orang lain yang dianggap penting, media
massa, institusi atau lembaga Pendidikan
Agama, dan faktor
emosional. Eagly dan
Chaiken(1993) mengemukakan bahwa sikap dapat diposisikan sebagai hasil
evaluasi terhadap objek politik,
yang diekspresikan ke
dalam proses-proses kognitif, afektif, dan perilaku. Sebagai
hasil evaluasi, sikap yang disimpulkan dari berbagai pengamatan terhadap objek
diekspresikan dalam bentuk respon kognitif, afektif (emosi), maupun perilaku.
Menurut
ahli psikologi sosial, yang memandang bahwa belajar sebagai suatu proses yang
berakhir dengan terjadinya perubahan pola tingkah laku seseorang. Menurut para
ahli itu, bahwa nilai-nilai dan kebiasaan-kebiasaan dalam suatu masyarakat,
termasuk didalamnya nilai-nilai politik, senantiasa mengalami proses
transformasi, pemahaman dan internalisasi
ke dalam individu melalui tiga mekanisme utama, yakni asosiasi,
peneguhan dan imitasi, di mana tingkah laku para aktor politik penting ditiru,
sebagai bagian dari perilaku masyarakat.
Dari
tiga proses di atas, apa yang disebut nilai-nilai dan kebiasaan- kebiasaan yang
membentuk budaya politik dan diwariskan dari generasi ke generasi untuk
kemudian mendikte orientasi, sikap dan tingkah laku politik santri dalam
kebudayaaan. Pada dimensi inilah keterkaitan antara budaya politik santri
dengan sikap dan tingkah laku politik, termasuk didalamnya partisipasi politik.
Dimensi lain yang cukup mendasar perlu dicermati, adalah refleksi dari proses
budaya politik santri dalam upaya menjabarkan kekuasaan masyarakat, sebagai
cerminan wajah nyata dari orientasi, sikap dan tingkah laku. Selain itu budaya
politik santri juga
merupakan dialektika dari
suatu masyarakat politik
dalam menjawab tantangan-tantangan politik yang menghalangi pada setiap
fase pemantapan perkembangannya dalam psantren.
Penelitian
kebudayaan politik ditandai adanya titik pusat perhatian pada
masalah-masalah sosialisasi dan
pengalaman-pengalaman
politik yang dialami oleh berbagai tokoh di dalam pondok
pesantren, yang diwarisi dari generasi ke generasi berikutnya serta situasi di
mana kebudayaan politik itu berubah. Penelitiannya dapat pula menjurus pada
suatu perspektif baru dari perjalanan sejarah suatu tokoh, dengan memberikan
perhatian utama yakni, bagaimana kepercayaan politik yang asasi dipengaruhi
oleh ingatan atas peristiwa-peristiwa politik masa lampau.
Budaya
politik dapat dilihat dari aspek doktrinnya dan aspek generikanya. Pertama,
menekan pada isi atau materi budaya politik yang dapat dijumpai pada studi
tentang doktrin: seperti sosialisme, demokrasi atau nasionalisme dan Islam.
Kedua, aspek generika yang menganalisis bentuk, peranan, dan ciri-ciri budaya
politik terhadap santri.
Misalnya, apakah budaya
politiknya militan, utopis, terbuka atau tertutup. Pada aspek
generikanya dari budaya politik, dapat dilihat dari hakekat, bentuk dan
peranannya. Hakekat atau ciri-ciri pokok dari budaya politik
santi ini menyangkut masalah nilai-nilai. Nilai-nilai seorang santri adalah
mempunyai prinsip-prinsip dasar yang melandasi doktrin atau suatu pandangan
hidup. Nilai-nilai yang dimaksud ini berhubungan dengan masalah tujuan, seperti
nilai-nilai pragmatis atau utopis.
Gabriel A. Almond mencatat,
bahwa aspek lain yang menetukan orientasi politik seseorang, adalah hal-hal yang berkaitan dengan “rasa percaya”
(trust) dan “permusuhan” (hostility). Perasaan ini dalam realitas sosial berwujud dalam kerjasama
dan konflik yang merupakan dua bentuk kualitas politik. Rasa percaya mendorong
kelompok-kelompok dalam masyarakat untuk bekerjasama dengan kelompok lain.
Sebaliknya kelompok-kelompok yang
bekerjasama memungkinkan timbulnya konflik. Dengan demikian, kerjasama
dan konflik tidak saja mewarnai kehidupan masyarakat, tetapi juga merupakan
ciri budaya politik.
Budaya politik suatu masyarakat
dengan sendirinya berkembang di dalam dan dipengaruhi oleh kompleks nilai yang
ada dalam masyarakat tersebut. Hal ini terjadi, karena kehidupan masyarakat
dipenuhi oleh interaksi antar-orientasi dan antar-nilai. Interaksi yang
demikian memungkinkan timbulnya kelompok antar budaya, dan menjadi pemicu dalam
menjalin proses integrasi dan pengembangan budaya politik santri. Dengan
memahami budaya politik, kita akan memperoleh paling tidak dua manfaat.
Pertama, sikap-sikap warga negara terhadap sistem politik akan mempengaruhi
tuntutan-tuntutan, tanggapan, dukungannya serta orientasinya terhadap sistem
politik itu. Kedua, dengan memahami hubungan antara budaya
politik dan sistem politik, maksud-maksud
individu melakukan
kegiatannya dalam sistem
politik atau faktor-faktor
apa yang menyebabkan terjadinya pergeseran
politik dapat dimengerti.
Proses pematangan
budaya politik merupakan pekerjaan
jangka panjang yang
hampir tidak memiliki perhentian. Proses ini berjalan seiring dengan dinamika
perjalanan masyarakat dan sistem politiknya.
No comments:
Post a Comment